Bukan Kebijaksanaan. Tapi Ketulusan dan Totalitas

Levina Lailani Suprapto

153 08 013

Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB
Terus belajar untuk menjadi Engineer dan Jurnalis yang baik

Seorang Levina tidak akan mengingkari kata-katanya. Apalagi menjilat ludahnya sendiri.

Levina L Suprapto

Kutu

Judul tulisan yang sama sekali tidak menarik ya. Kutu. Binatang yang mengganggu. 

Saya tidak akan membahas kutu di rambut teman, tapi saya akan membahas kutu dalam cerita antara Chinmi dan Sie Fan. Iya. Untuk yang membaca, akan tahu betul apa yang saya jelaskan. KUNG FU BOY. Komik yang saya suka sekali dari kecil dan saya koleksi hingga sekarang. Diceritakan Chinmi yang baru saja belajar kungfu tongkat dengan guru Riki, perkembangannya berlangsung sangat cepat dan dalam waktu singkat menjadi nomor 1 diantara murid-murid Riki yang lain. 

Sampai tiba suatu ketika, datanglah Guru Shoshu (Guru dari Riki ) bersama muridnya yang bernama Sie Fan. Sie Fan berbadan kecil, polos, dan terlihat lemah. Chinmi akhirnya pun menginisiasi pertandingan persahabatan karena merasa percaya diri untuk diadu dengan Sie Fan.

Tetapi, ketika latihan tanding dilaksanakan, ternyata Chinmi tak mampu berbuat apa-apa, kalah telah dan bahkan jatuh pingsan akibat ketidakmampuannya menandingi Sie Fan. 

Chinmi merasa malu, bingung, dan tidak habis pikir karena ternyata dia sama sekali bukan tandingan Sie Fan. Ia pun merenung di suatu ruangan di Kuil Dairin. Ketika Chinmi sedang merenung, Guru Soshu datang. 

Ia membawa sebuah kotak. Setelah kotak itu dibuka ternyata kotak itu berisi seekor kutu, dan ketika kutu itu dikeluarkan kutu itu langsung loncat-loncat. Ya, namanya juga kutu loncat. 

Guru Soshu : Akuakan perlihatkan sesuatu yang lucu

Chinmi : Apanya yang lucu dari kutu loncat itu?

Guru Soshu : Kutu tadi adalah kamu..Chinmi!

Kemudian Guru Soshu memegang Goku (monyet peliharaan Chinmi) lalu mengambil kutu dari tubuh Goku dan berkata “Kutu ini adalah Sie Fan” kemudian melepaskan kutu itu. Kutu itu juga meloncat-loncat setelah dilepaskan, namun yang berbeda adalah : tinggi loncatannya beberapa kali lipat dari kutu yang pertama. 

Chinmi : Guru mau mengatakan bahwa kemampuan mereka memang berbeda, begitu?

Guru Soshu : Tidak. Ketua kutu itu jenisnya sama, jadi kemampuannya sama. Tapi kenapa daya lompatnya begitu berbeda? Kamu tahu kenapa Chinmi? 

Chinmi diam.

Guru Soshu : Kalau kamu tahu, kamu pasti tak akan kalah telah seperti tadi malam.

Chinmi memasukkan kedua kutu ke dalam kotak dan melanjutkan merenung.  

******************************************************************

“Kenapa daya lompatnya berbeda? Kutu yang lompatannya tidak tinggi adalah aku. Kutu yang lompatannya tinggi adalah Sie Fan. Beda antara kedua kutu….” - Pikiran Chinmi

Untuk membantunya berpikir, Chinmi kemudian mengeluarkan kedua kutu lagi dari dalam kotak. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kedua kutu itu tidak dapat dibedakan. Tinggi lompatan keduanya sama. Akhirnya Chinmi sadar……….

******************************************************************

Kamar Guru Soshu

Chinmi (berlari dengan tergesa-gesa) : AKU TAHU SEKARANG! 

Guru Soshu : Jadi?

Chinmi : Rahasianya ada di kotak ini, setelah kutu Go Ku dimasukkan ke kotak ini tinggi lompatannya jadi sama dengan kutu yang sebelumnya ada di kotak! Tinggi lompatan kedua kutu ini setinggi kotak ini, jelasnya kutu yang dimasukkan ke dalam kotak menjadi tidak bisa melompat lebih tinggi dari kotak!

Guru Soshu : Tepat sekali. Kutu itu memang biasanya bisa melompat beberapa meter, tapi bila dikurung di dalam kotak, setiap kali melompat kutu menabrak tutupnya sehingga ia tak mau melompat lebih tinggi dari kotak itu. Karena hal itu diulang terus menerus akhirnya tinggi kotak menjadi batas daya lompat dari kutu itu. Jadi, walaupun dikeluarkan dari kotak, kutu itu tak bisa melompat lebih tinggi dari kotaknya. KALAU TINGGI ITU DIANGGAP SEBAGAI BATAS, TENTU TAK BISA MELOMPAT LEBIH TINGGI. BEGITU KAN CHINMI?!

Chinmi tersentak

Guru Soshu : Makanya kubilang, Chinmi yang sekarang sama dengan kutu itu! Paham? Kamu yakin sudah banyak mempelajari ilmu tongkat dari Riki dan di sekitar sini tak ada yang bisa menandingimu. Hasilnya muncul saat kamu bertanding melawan Sie Fan. Kamu membuat batasanmu sendiri. Kotak ini merupakan keyakinanmu. Padahal kalau kamu keluar dari kotak, kamu bisa melompat lebih tinggi lagi!

JANGAN MEMBUAT BATASAN SENDIRI!! KALAU KAMU PIKIR LATIHAN SEGINI SUDAH CUKUP, KAMU SUDAH TAMAT!!! KALAU SUDAH PUAS DENGAN KEPANDAIAN SENDIRI DAN MALAS UNTUK MENINGKATKANNYA, AKAN MENGUNDANG BENCANA!

*******************************************************************

Saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi apa esensi cerita ini :)

KREA TIF

KREATIF. 

Kreak dan Primitif. Eh bukan, itu hanya candaan saya dan teman-teman saya zaman dahulu kala. Kira-kira pas saya masih bermuka imut (agak creepy ya, jangan2 gak pernah terjadi sepanjang sejarah).

Kreatif. Orang bilang, kreatif itu out of the box, berbeda dari yang lain. Ada juga yang bilang kreatif itu unik. Tapi benarkah begitu?

Kedua definisi kreatif diatas sebenarnya definisi kreatif yang ada di budaya populer. Kalau ditinjau dari definisi kreatif dari masa ke masa (yang saya pelajari), orang zaman dahulu mengatakan bahwa orang kreatif adalah orang jenius. Tapi definisi kreatif, yang paling pas di hati saya adalah bahwa kreatif adalah menyelesaikan masalah. Tidak sekedar unik. Tidak sekedar out of the box.

Bicara tentang kreatif, saya setuju dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa sistem yang ada pada pendidikan kita justru menuntun ke pragmatis yang merupakan hambatan terbesar untuk menjadi pribadi yang kreatif.

Yang terjadi sekarang adalah sistem tidak memberi ruang untuk kreatif. Tidak pernah ada apresiasi, hilang rasa empati. Kita menjadi terlalu mekanistik. 

Mmm mungkin hal-hal kecil yang berhubungan dengan hambatan untuk kreatif di kehidupan sehari-hari, karena saya mahasiswa, saya bingung karena kebanyakan kursi di ruangan kuliah kampus saya semuanya dipancang jadi tidak bisa digerakkan. Entah apa alasannya, tetapi saya penasaran hingga sekarang. Apakah mahasiswa memang harus duduk diam rapih di tempatnya tanpa gerakan dan memperhatikan pusat atensi di depan? Atau mungkin dipancang untuk menghindari inventaris kampus dicuri? Atau jangan-jangan untuk membatasi kreatifitas kita?

Memangnya mengapa kalau ada yang mau lari-lari ketika belajar ? (Ekstrim memang. Haha. Yang tidak ekstrim saja kalau begitu -> memangnya mengapa kalau susunan kursi yang berpengaruh pada interaksi dosen dan mahasiswanya berubah? Memangnya kenapa tidak boleh dipindahkan, padahal ingin melingkar? ingin setengah melingkar? atau ingin bentuk lainnya?)

Ah. Saya bingung. Masih belum menemukan jawabannya. 

Apalagi ya?

Kreatif, harus dapat mengkonkretkan yang abstrak. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata-kata ini : “secara sederhana….” tapi sederhana itu apa? Bingung juga saya. Haha

Salah satu kreatif yang dapat mengkonkretkan yang abstrak mungkin dapat digambarkan seperti ini : 

“Ada lubang di hatiku, aku ingin kau mengisinya” -> sebuah kata-kata yang (mungkin) puitis, sekaligus mengkonkretkan yang abstrak. Karena saya bisa membayangkan hati (setidaknya organ tubuhnya) yang memiliki lubang. Terbayang secara imajinatif. 

Maaf teman-teman pembaca. Saya meracau lagi. Silahkan katakan saya sakit jiwa. Tapi sebenarnya, saya cuma sedang sakit kepala. 

“Feodalisme adalah musuh utama kebebasan.” Itu penyebabnya mengapa kita menjadi tidak kreatif. 

Es

Es. 

Keras. Dingin. Tajam menusuk ke kulit bila digenggam dengan rapat. 

Haha. Aku tak mengerti kenapa aku tertawa. Padahal, emosi yang signifikan sudah jarang kurasakan. Tidak tahu apakah itu pertanda baik ataupun buruk. Dulu, marah hingga puncaknya terasa diubun-ubun pernah kurasakan. Geram, getir dan sedih hingga sinus dan kepala sakit bergetar juga pernah kurasakan. Senang hingga meluap-luap hingga tak sanggup tidur pun juga pernah kulalui. Sekarang ? 

Beku. Orang berkata karena dulu aku pernah terlalu ‘sakit’. 

Mungkin sakit jiwa. Mungkin sakit hati. 

Haha. Lagi. Saya meracau tidak jelas. Tidak. Saya tidak galau. Saya tidak gundah. Saya tidak gelisah. 

Saya hanya khawatir. Apakah saya baik-baik saja? 

Saya tidak mengetahui jawaban tersebut hingga kemarin. Ketika saya mengetahui, bahwa ternyata saya memang baik-baik saja. Saya bisa tersentuh di suatu saat. Dan saya bisa senang, saya bisa lega. Ketika saya berhasil membuat orang lain tersenyum. 

Haha. Tertawa lagi. Saya diajarkan untuk dapat mengobati sakit yang dimiliki oleh orang lain, entah sakit emosi, maupun sakit fisik. Sudah hampir 4 tahun berlalu sejak semua transfer ilmu itu selesai.

Saya menatap buku pasien saya. Kosong. Saya baru sadar, saya tidak berusaha apapun untuk mengobati orang lain.

Saya tahu dan selalu diajarkan untuk selalu Loving God, Blessing Others, Self Improvement. 

Saya melaksanakan 1 diantaranya secara optimal (saya rasa), yaitu Self Improvement. Saya melaksanakan 1 diantaranya sebagai kebutuhan yaitu Loving God. Tapi 1 lagi mungkin agak tertinggal. 

Haha. Kembali tertawa. Iya. Saya kurang Blessing Others. Saya merasa telah melakukan ‘blessing’ pada lingkungan saya. Tetapi apakah itu cukup? 

1 hal terakhir ini malah terlaksana secara optimal ketika Tuhan menurunkan suatu momentum yang membuktikan bahwa others blessing me. Why shouldn’t I? 

Ah, memang masa ini merupakan masa yang kontemplatif. 

Memang harus ‘have a cup of coffee and think about myself’ 

Pejal

Pejal. Sebuah kata yang sepertinya pertama kali saya dengar ketika belajar fisika. 

Pejal. Sebuah kata yang makin sering terdengar ketika saya menjadi bagian suatu tim yang hingga sekarang selalu disebut Benda Pejal. 

Pejal. Kata yang ‘kambuh’ di memori saya selepas menghadiri perayaan wisuda HMTL kemarin karena………………………………

Ya. Karena saya bertemu lagi dengan mereka semua. Membangkitkan salah satu memori paling berharga saya dalam perjalanan saya di kampus ini.

Ya. Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan. Badan Pengurus. 2010/2011. 

Terima kasih untuk Iqbal Ariefandi (Bekok) dan Yogi Irmas Pratama atas kepercayaannya. Kelak kepercayaan dari mereka lah yang membuat saya yakin bahwa sistem Benda Pejal sejauh ini sistem terbaik untuk menguatkan mental kelompok, atau komunitas. Dan bersama mereka pula saya belajar untuk mengembangkan animo kerja yang baik sehingga membentuk team work dan kepercayaan, hal yang (menurut saya) masih sedikit diterapkan dalam apapun di kampus ini. Singkatnya, jarang pemimpin yang memikirkan keadaan mental bawahannya, kondisi mereka, dan aspek-aspek lainnya. Tapi Bekok, yang waktu itu memimpin HMTL, masih sempat bahkan untuk menanyakan kabar & mendengarkan selintas cerita tataran terbawahnya, pelaksana program, ataupun anggota yang jarang muncul di sekretariat himpunan. 

Susah ya. Susah sekarang untuk mencari orang seperti itu. Jabatan apapun, ketua proker, menteri, kahim, atau bentukan jabatan kemahasiswaan lain yang ada di kampus ini yang masih menyisihkan waktunya untuk memikirkan keadaan orang lain. Bukan saya mengesampingkan profesionalitas, saya mengerti, bahwa pengemban amanah tersebut mungkin terlalu sedikit waktunya & terlalu banyak urusannya hanya untuk memikirkan hal kecil, tapi bagi saya hebat ketika bisa mengemban amanah besar tetapi sambil membangun & memperkuat mental serta kepercayaan semua bawahannya. 

Mungkin ini ada hubungannya dengan beberapa kepanitiaan atau pemerintahan mini (himpunan, unit, kabinet, dll) yang “ditinggalkan” atau mengalami permasalahan dengan loyalitas anggotanya atau masalah sumber daya, kurang orang dsb. Kurang peminat, mungkin bergantung pada kualitas promosi & komunikasi, tetapi bila ditinggalkan, mungkin ada masalah dengan pemimpinnya, atau mungkin sekarang kita sudah tidak bisa membedakan mana masalah dan mana efek proses.  Banyak kemungkinan. 

Haha. Padahal awalnya, saya pikir cara pejal ini agak bullshit. Tetapi toh sekarang benda pejal adalah benda paling berharga yang akan saya ‘bawa’ kemana-mana di pikiran saya. 

Ah, maaf. Saya sedang random. Sedang tidak teratur. Sedang acak-acakan. Saya tidak mengerti apa isi kepala saya. 

Tanpa Pengkhianat, Benar, Ataupun Salah

1 month ago - 1

Saat gamang, saya lebih memilih untuk mendengarkan dan berbagi kepada pria, karena mereka mengatakan apa yang mereka lihat, ketika mereka tidak tahu, mereka tidak berbicara, kepada wanita? mereka mengatakan apa yang mereka rasa, kalau tidak tahu, tetap berbicara, dengan introduksi “sepertinya..” , “mungkin..” dan terkadang itu bisa membuai dan menuntun kepada harapan palsu. Saya rasa pun saya terkadang masih melakukan hal itu. Semoga saya tidak akan berbicara bila tidak tahu sesuatu.

Levina Lailani Suprapto

Integritas, Loyalitas, Totalitas

Integritas adalah ketika saya melaksanakan apa yang saya katakan dan mengatakan apa yang saya lakukan

Loyalitas adalah ketika saya melakukan integritas itu secara terus menerus, berkesinambungan

Totalitas adalah ketika saya tidak membiarkan satu alasan atau excuse kecil pun untuk meninggalkan integritas dan loyalitas saya

Haha saya belajar ini dari sahabat saya Umar Said, dan sampai sekarang saya pergunakan ini sebagai landasan bertindak :)

Thanks mar!

Bagi saya hidup bukan tentang kebijaksanaan, tapi ketulusan dan totalitas. Kenapa? Jawabannya gampang, karena saya bukan orang bijak. Bijak pun, saya tak yakin seluruh tindakan saya berdasarkan kebijaksanaan. Tapi saya yakin, seluruh tindakan saya berdasarkan ketulusan dan totalitas.

Levina Lailani Suprapto

Apakah seorang manusia terlebih orang yg telah menjadi suami kita bisa lebih jahat daripada seekor harimau? Apakah seorang lelaki itu kurang tanggap terhadap kebaikan dan pengertian? Kalau kita bisa memperoleh kepercayaan dan cinta dari seekor binatang liar dan haus darah dengan kelembutan dan kesabaran, bukan kah dengan cara yang sama kamu akan memperoleh kepercayaan dan cinta dari orang yang kamu sayangi tersebut?

- Pertanyaan seorang Pertapa pada Yun Ok

Legenda Yun Ok, selalu membuat saya terinspirasi dan menjadi salah satu pegangan hidup bahkan